Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

Fahami Aswaja Lewat Seminar


Fahami Aswaja Lewat Seminar

AlKhoziny.com - Santri adalah generasi yang menjadi sumber harapan terkuat untuk meneruskan perjuangan ulama’ dan membentengi Aswaja, itulah yang disampaikan KHR. Abd. Salam Mujib dalam sambutan beliau pada pembukaan Seminar Aswaja kemarin malam. 

Jadi sangatlah penting bagi santri untuk membekali diri dengan pengetahuan ke-Aswaja-an untuk bekal menghadapi masyarakat yang saat ini sudah mulai terkontaminasi oleh faham-faham yang menyimpang.

Seminar Aswaja yang diselenggarakan Lembaga Pesantren Al-Khoziny merupakan seminar yang pertama. Yang menjadi narasumber adalah KH. Abdulloh Syamsul Arifin, MHI dari Jember. Beliau merupakan salah satu tokoh terkemuka NU. Beliau tiba sekitar pukul 19.30 WIB barat dan langsung menuju lokasi acara. 

Beliau terlihat akrab berkumpul dengan kyai Salam serta ustadz-ustadz senior karena memang beliau adalah figur yang tidak asing dengan Al-Khoziny. Beliau merupakan alumni pondok Al-Khoziny dan saat ini mengasuh sebuah pesantren di Jember.

Gus Aab menuturkan alasan mengapa warga Ahlus Sunnah wal Jama’ah harus berorganisasi sedang mereka sudah mengamalkan amaliyah Aswaja seperti tahlilan, membaca sholawat, dzikir dan amaliyah lainnya. Beliau mengutip dari perkataan hadrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ary bahwa alasannya adalah agar umat islam di Indonesia dapat terus menyambung langkah dan menyatukan para ulama’.  

Al-hamdulillah seminar berjalan lancar. Banyak ilmu ke-Aswaja-an yang dapat diserap dari hasil seminar Rabu malam itu. Ada beberapa hal menarik yang disampaikan oleh Gus Aab yang terhimpun, diantaranya:

Fahami Aswaja Lewat Seminar
Suasana seminar Aswaja di LP Ak-Khoziny Siswa MA, MTs, dan A'la

Boomerang untuk menangkis propaganda

Kata beliau (Gus Aab) yang banyak terjadi di masyarakat adalah proganda golongan Muhammadiyah yang berseberangan faham dengan aswaja mengenai jumlah rakaat taraweh. Selama ini yang menjadi perselisihan adalah dua pendapat, yang satu mengatakan raat taraweh adalah 11 dalam hadits nabi, sedang praktek yang diterapkan sayyidina Umar ra adalah 23 rakaat. “Ikut nabi apa Umar?”. Pertanyaan itu pun disodorkan guna menggoyahkan pendirian warga NU kalangan awam yang kebanyakan dari mereka hanya taqlid saja. Orang awam tentu akan memilih orang yang dipandang berpangkat lebih tinggi, dan dapat ditebak kalau mereka akan memilih ‘ikut nabi’. Gus Aab menerangkan panjang lebar tentang hadits yang menjadi istimbatul hukmi pada dua pendapat ini dan yang menarik beliau mengatakan bahwa: sebenarnya yang tidak beres adalah pertanyaannya!. Sama dengan permasalahan berikut: dalam al-Qur’an disebutkan bahwa pencuri harus diqishos dengan dipotong tangan, namun tak disebutkan batasnya, sedang di dalam tangan terdapat jari, telapak, pergelangan, hasta, siku, lengan, yang bila digabungkan akan menjadi anggota yang disebut ‘tangan’. dapat disimpulkan bahwa hukum al-Qur’an adalah memotong seluruh tangan!. sedangkan di dalam hadits nabi menjelaskan penerapan potong tangan untuk hukum qishos hanya sebatas pergelangan saja. Kemudian ditanya ikut nabi (yang memotong pergelangan tangan saja) apa ikut al-Qur’an (yang memotong semua tangan)?. 

Pertanyaan tersebut membungkam golongan yang memprovokasi tersebut. Gus Aab memaparkan pendapat al-Syatabi yang kemudian menjadi kesimpulan yang dapat diambil, yakni sesuatu yang menjadi kesepakatan shahabat sudah barang tentu disetujui oleh nabi, dan tidak dapat dibanding-bandingkan dengan pertanyaan konyol ‘ikut yang mana?’. Demikian jawaban beliau. dan pada kenyataannya golongan yang bilang rakaat taraweh adalah 11 itu salah dalam memahami haditsnya.  Panjang lebar beliau jelaskan hal tersebut lengkap dengan dalil baik dari al-Qur’an maupun al-hadits.

Mengenali Aswaja melalui bintang 9

Cara paling mudah untuk orang memahami aswaja (NU) adalah dengan merenungi filosofi bintang 9 yang ada pada lambangnya. Sembilan bintang disana digambarkan dengan formasi melingkar, satu yang terbesar berada di tengah melambangkan Nabi Muhammad Saw yang memiliki peranan paling besar sebagai mahaguru umat manusia di bumi.

Kemudian empat bintang (dua di sisi kanan dan dua di kiri) di bawah bintang utama melambangkan Khulafa’ur Rosyidun (Abu bakar, Umar, Utsman, dan Ali) filosofi ini menentang akan aliran lain yang tidak mengakui posisi kholifah lain selain Ali ra. Bahkan ada dari mereka yang terlampau radikal mengkafirkan para shahabat dalam jajaran Kholifah dan hanya menganggap Ali-lah yang layak untuk menyandang predikat kholifah tersebut.

Sedangkan empat dibawahnya lagi melambangkan madzahibul arba’ah (Maliki, Syafi’i, Hambali, Hanafi) yang menjadi sumber panutan umat muslim seluruh dunia. Filosofi imam emat yang disimbolkan dengan bintang empat untuk menepis aliran-aliran anti madzhab dan menyandarkan segala urusan pada nash hadits dan al-Qur’an, padahal dalam kenyataannya kapasitas keilmuan mereka belum cukup untuk memahami maksud sebenarnya dari al-Qur’an dan hadits itu sendiri.

Berjumlah sembilan karena melambangkan wali songo sebagai penyebar agama islam di Indonesia.
Jadi yang dapat kita serap adalah ajaran aswaja adalah ajaran yang di bawa Nabi Muhammad diturunkan kepada para shahabat (Khulafa’ur Rosyidun) kemudian menurun lagi kepada Imam madzhab empat (Maliki, Syafi’i, Hambali, Hanafi) hingga sampai pada Walisongo yang kemudian menyebarkan islam di Indonesia dimulai dari tanah Jawa.

Filosofi sembilan bintang ini diadopsi oleh KHR. Abd. Mujib Abbas dalam pembentukan lambang Al-Khoziny.

Angka 9 adalah angka dengan keistimewaan   

Sesuatu yang unik lainnya adalah tentang keistimewaan angka 9. Salah satu keistimewaan yang paling mudah difahami adalah angka 9 akan tetap berputar (kembali pada dirinya [menjadi 9 lagi]) bila dikalikan dengan bilangan apapun. Contoh: 9 x 2 = 18, bisa kita lihat angka 18 terdiri dari angka 1 (satu) dan 8 (delapan) yang mana bila dijumlah akan menjadi 9. Kita coba lagi 5 x 9 = 45, kemudian 4 + 5 = 9, kita buktikan sekali lagi 3 x 9 = 27, kemudian 2 + 7 = 9, hasilnya akan selalu 9. Itulah hikmah menarik dari angka 9 yang tidak semua orang dapat menemukannya, melainkan hanya orang-orang cerdas dan kreatif. Disamping itu angka 9 adalah angka ganjil, dan angka ganjil dicintai oleh Allah SWT. (Hilmi R)

Mereka yang mengatakan Maulid Nabi Bid'ah mungkin tidak pernah belajar mantiq (Malam maulidurrasul Muhammad SAW)