Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

Shalat, Terapi Pengobatan Hati

SHOLAT, TERAPI PENGOBATAN HATI

Oleh; Ismail Q *

Di dalam agama Islam Sholat adalah akar dari segala ibadah atau bisa kita gambarkan Sholat adalah pengendali dari suatu kendaraan. Jika sebuah kendaraan tanpa pengendali (setir), maka kendaraan tersebut akan tidak terarah dan tidak memiliki tujuan. Jika Sholatnya bagus, maka amal ibadah lainnya akan bagus pula. Begitu pun sebaliknya jika Sholatnya tidak bagus (tidak khusus atau rukun-rukunnya tadak sempurna) maka ibadah lainnya dapat dipastikan buruk. 

Sekarang kita dapat menjawab mengapa orang suka berghibah (ngerumpi), suka menyakiti perasaan orang lain, menghasut bahkan menfitnah? Orang semacam ini diindikasikan Sholatnya kurang memenuhi syarat, riya’, tidak ikhlas dan banyak kemungkinan lainnya yang menjadi pemicu Sholatnya tidak sempurna.

Terkadang orang melaksanakan ibadah Sholat sebatas memenuhi kewajiban bukan dilandasi dasar cinta dan suka. Sehingga banyak orang yang seakan terpaksa melaksanakan Sholat. Ciri orang melaksanakan Sholat sebatas kewajiban, suka mengulur waktu Sholat, adzan berkumandang bukan bersiap-siap Sholat malah santai tiduran. Semakin hari semakin lemah keimanan, semakin renggang bermunajat kepada Allah, Na’udzubillah.

Di samping gonjang-ganjingnya status ghirah Islamisasi, disaat itulah para ateisme meluncurkan bom nuklir terhadap  generasi muda secara abstrak. Berbagai macam cara para Ateis lakukan untuk mensukseskan ekspansionisme mereka. Dari itu lahirlah ideologisme yang sangat bertentangan dengan Islam. Simak ungkapan para Ateis berikut; “Buat apa Sholat kalau riya’, tidak ikhlas, karena tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lebih baik bersihkan hati dulu, nanti kalau sudah ikhlas tidak riya’, maka baru Sholat agar diterima oleh Allah SWT”. Target utama dari bom nuklir (kalimat) ini adalah generasi Islam yang masih dangkal dalam memahami kaidah Islam. Orang yang dangkal pemahaman kaidah Islam cenderung akan dangkal Imannya. Semakin lemah keimanan kita maka semakin banyak peluang mereka mempengaruhi kita. Mereka bertujuan untuk melegalitaskan meninggalkan Sholat dengan “dalih” pembersihan hati terlebih dulu.

Kewajiban melaksanakan Sholat tidak berkurang hanya karena rasa riya’, belum ikhlas sebab Sholat adalah kewajiban  Agama. Setiap muslim, ikhlas atau pun riya’, rela atau pun terpaksa, tetap wajib mendirikan Sholat. Jika kita tala’ah sedikit,  Riya’ dan Ikhlas keduanya merupakan perasaan yang timbul dalam hati seseorang dan dalam kitab fiqh, hati seseorang tidak pernah disangkut pautkan dengan hukum apapun kecuali niat.   

Kerugian besar bagi orang yang meninggalkan Sholat karena perasaan riya’, belum ikhlas karena Allah. Mengapa? Sebab Sholat itu adalah benteng dari segala perbuatan keji dan munkar, termasuk riya’, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. 29. Al-‘Ankabuut ayat 45.

ٱتۡلُ مَآ أُوحِيَ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ 

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah Sholat. Sesungguhnya Sholat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (Sholat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah  yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Selain unsur utama adalah ibadah, dalam Sholat juga terdapat bentuk terapi yang tidak mempergunakan obat-obatan herbal atau resep dokter melaikan bathiniyah, OBAT HATI yang bisa menyembuhkan dan menghilangkan penyakit hati seperti riya’ dan ‘ujub. Bagaimana penyakit hati bisa sembuh tanpa mendirikan Sholat? Bukankah begitu..! Walaupun terkadang kita masih merasakan Riya’ atau ‘ujub, kita jangan sampai meninggalkan Sholat.  Bahkan setiap melaksanakan Sholat harus ada upaya untuk khusu’, lebih menyempurnakan syarat dan rukun Sholat serta sunah-sunah nya. Cobalah sesekali untuk merenungi arti tiap apa yang kita baca dalam Sholat, dengan begitu kita akan lebih cepat untuk mencapai Sholat yang sempurna.

 *Penulis adalah santri aktif di Pesantren Alkhoziny, mulai gemar menulis dari kelas III MTs. Pernah menjadi sekretaris & layouter Majalah Sunny selama tiga tahun.  Sekarang aktif di Lembaga Pers Pesantren Alkhoziny (LP2A) dalam bidang kejurnalistikan (2 tahun) dan keterampulan (3 tahun). Untuk berkomunikasi dengan penulis bisa lewat email: uungsmaning@gmail.com
Mereka yang mengatakan Maulid Nabi Bid'ah mungkin tidak pernah belajar mantiq (Malam maulidurrasul Muhammad SAW)