Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

Harta yang membawa petaka

Tsa'labah sang merpati Masjid




Tsa’labah bin Hathib Al Anshari adalah seorang ahli ibadah. Seluruh waktunya banyak ia habiskan di masjid, dahinya sampai membekas seperti lutut unta karena saking banyaknya sujud. Karena ia sering menetap di Masjid Sehingga ia diberi julukan dengan “hamamatul masjid” yakni merpatinya Masjid. Tsa’labah termasuk salah satu sahabat Nabi yang miskin.
Suatu ketika Nabi SAW melihat perilaku yang aneh dari Tsa’labah. Setiap kali selesai shalat, ia langsung beranjak meninggalkan masjid tanpa menunggu dzikr dan berdoa bersama Rasulullah SAW. Kemudian Nabi SAW memanggilnya dan berkata, “ wahai tsa’labah, mengapa engkau bertingkah sebagaimana tingkahnya orang-orang munafik, setelah shalat langsung pergi tanpa berdzikir?”
Tsa’labah menjawab,”Wahai Rasulullah, dalam beberapa hari ini kami tidak memiliki kain yang cukup untuk menutupi aurat. Sehingga saya langsung pulang karena istri saya menunggu kain yang saya pakai ini, untuk melaksanakan shalat..!!”
Rasulallah terdiam dan mengangguk penuh pengertian. kemudian Tsa’labah berkata, “Wahai Rasulullah, mintalah kepada Allah untuk kami, agar kami diberi rezeki yang banyak”
Beliau bersabda,
"ويحك يا ثعلبة قليل تؤدي شكره خير من كثير لا تطيقه"
“celakalah engkau tsa’labah,harta yang sedikit tetapi kamu bisa mensyukurinya, itu lebih baik dari pada harta banyak tetapi kamu tidak kuat dan tidak bisa mensyukurinya!!”
kemudian Tsa’labah berpaling dan pulang. Tetapi keesokan harinya ia menghadap Nabi SAW lagi dan berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah untuk kami, agar Dia memberikan rezeki yang banyak kepada kami!!”
Kali ini Nabi SAW berkata agak keras, “Wahai Tsa’labah, belum cukupkah bagimu Rasulullah ini sebagai suri teladan? Demi Allah , seandainya aku menghendaki gunung-gunung menjadi emas dan perak, tentu hal itu menjadi kenyataan. Tetapi aku tidak melakukannya, dan tetap bersabar dengan apa yang ditetapkan Allah untukku."
Rasulallah berkata seperti itu Tentunya  dengan pandangan kenabian, beliau mengetahui betul bahwa orang seperti Tsa’labah itu akan terjerumus jika bergelimang dengan harta benda. Karena itulah beliau tidak mau mendoakannya,
Keesokan harinya Tsa’labah datang lagi menghadap Nabi SAW,  dengan agak memaksa  ia berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah untuk kami, agar Dia memberikan rezeki yang banyak kepada kami. Demi Allah , jika Allah telah memberi rezeki kepadaku, pastilah saya akan berikan hak kepada orang yang berhak atas harta tersebut, ia berjanji akan membelanjakan hartanya di jalan Allah”
Untuk permintaan yang ketiga kalinya ini kemudian Rasulallah mengabulkanpermintaanya dan mendoakannya, “Ya Allah, berilah Tsa’labah harta, berilah dia reziki”
Beliau memerintahkan seorang sahabat lainnya untuk memberi Tsa’labah seekor kambing yang sedang hamil. Tsa’labah pulang dengan penuh kegembiraan karena doa Nabi SAW tersebut.
hari-hari pertama sebagai ‘peternak’ kambing, Tsa’labah masih aktif hadir di masjid Nabi SAW seperti biasanya. Tetapi dalam beberapa bulan saja kambingnya berkembang semakin banyak.
karena kambingnya  semakin banyak, ia harus menggembalakannya hingga jauh ke luar Madinah, sehingga ia tidak hadir berjamaah bersama Nabi SAW kecuali saat shalat Jum’at saja. Akhirnya tsa’labah disibukkan dengan mengurus kambing ternakannya.
Suatu ketika Nabi SAW bertanya kepada para sahabat, “kenapa tsa’labah tidak lagi hadir di Masjid, Apa yang ia lakukan?”
Mereka menjawab, “Ya Rasulullah, dia sibuk mengurusi dan menggembalakan kambing-kambingnya.
Nabi SAW bersabda, “Aduhai, celakalah Tsa’labah !”
Ketika turun wahyu yang memerintahkan untuk mengeluarkan zakat, Nabi SAW mengutus dua orang sahabat untuk mengambil zakat dari kaum muslimin. ketika mereka berdua mendatangi Tsa’labah dan meminta untuk mengeluarkan zakat, mereka mendapat penolakan. Tsa’labah berkata, “tidak, Ini tidak lain adalah jizyah penarikan upeti atau pajak!! Biarkanlah aku berfikir dan berbuat menurut pendapatku, kembalilah lagi kalian ke sini di lain waktu”
Mereka berdua kembali ke Madinah dan melaporkan sikap Tsa’labah, maka Nabi SAW bersabda, “Aduhai, celakalah Tsa’labah!!”
Namun Nabi SAW masih mengirimkan dua orang sahabat lainnya menemui Tsa’labah untuk memperhitungkan dan menarik kewajiban zakatnya. Beliau masih berharap dia akan menjadi baik dan mau mengeluarkan zakatnya, tetapi kedua sahabat itu juga tidak berhasil dan kembali menghadap Nabi SAW dengan tangan hampa, Nabi SAW bersabda, “Sungguh celakalah Tsa’labah, sungguh celakalah Tsa’labah”
Tidak lama kemudian turun wahyu Allah,
وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ ,  فَلَمَّا آتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ (التوبة 75-76)
 "Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.” Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)."
Ayat ini turun menggambarkan sikap yang dilakukan oleh Tsa’labah,
Setelah Nabi SAW mengumumkan turunnya wahyu Allah berkenaan dengan Tsa’labah, salah seorang sahabat yang masih kerabatnya bergegas menemui tsa’labah untuk menyampaikan wahyu tersebut. Wajah Tsa’labah langsung memucat penuh ketakutan setelah mendengar wahyu tersebut. Ia bergegas membawa kambing sebanyak yang ia mampu dan menghadap Nabi SAW, ia berkata, “Wahai Rasulullah, inilah zakat dari harta saya”
Tetapi Nabi SAW bersabda, “Allah telah melarang aku menerima zakatmu”
Tsa’labah menangis penuh penyesalan ia meminta agar beliau mau memaafkan dan menerima zakatnya. Tetapi dengan tegas Nabi SAW bersabda, “Pergilah sana, urusi saja pekerjaanmu sendiri. Aku telah memerintahkan kepadamu berzakat, tetapi engkau menentang dan tidak taat pada perintahku”
Setelah Rasulullah SAW wafat dan Abu Bakar dibai’at sebagai khalifah beliau, Tsa’labah mendatanginya dengan membawa banyak sekali kambing yang dimilikinya, dan berkata, “Wahai khalifah Rasulullah, terimalah zakatku ini”
Abu Bakar menolaknya dan berkata, “Rasulullah tidak mau menerima zakatmu, bagaimana mungkin aku akan menerimanya??”
Ketika Abu Bakar wafat dan digantikan oleh Umar bin Khaththab, lagi-lagi Tsa’labah mendatanginya sambil membawa sebagian hartanya. Umar pun juga menolak zakatnya.
Ketika Umar wafat dan digantikan Utsman, Utsman juga menolaknya sebagaimana dua khalifah pendahulunya. Akhirnya Tsa’labah meninggal pada masa khalifah Utsman ini dalam keadaan miskin dan terhina.


Oleh : S,A


Sumber : Tafsir ibnu katsir 
                Tafsir At Thabary juz 14 hal 371
                Lubabun Nuqul fi Asbabinnuzul
                Tafsir ruhul bayan juz 3 hal 356


Post a Comment

0 Comments

Mereka yang mengatakan Maulid Nabi Bid'ah mungkin tidak pernah belajar mantiq (Malam maulidurrasul Muhammad SAW)