Ticker

6/recent/ticker-posts

Pujian itu menyakitkan

Kajian ihya' ulumiddin


PUJIAN ITU MENYAKITKAN

            Lumrah bagi manusia merasa senang ketika dipuji dan benci ketika dicaci, Karena itu adalah fitrah bagi manusia. Layaknya hati akan mencintai seseorang yang telah berbuat baik kepadanya meski sekedar memberikan seuntai kata sanjungan. Dan akan membenci seseorang yang berbuat jahat kepadanya walaupun hanya sebuah kritikan.

Kebanyakan orang tenggelam dalam pujian, seakan terikat dengan sebuah aturan. Aturan yang memaksa selalu tampil baik di depan umum. Tidak sedikit orang berani bermain dengan sebuah kebohongan, demi membuat orang lain kagum akan pesona yang dimilikinya. Bahkan ia memberikan hadiah kepada seseorang yang telah memujinya

Orang bijak akan bersikap waspada saat mendapatkan pujian dari orang lain. Sebab setiap pujian tidak lepas dari motif tertentu. Mulai dari sekedar mengekspresikan kekaguman, ingin berkesan baik (cari muka), hingga menginginkan sesuatu yang tidak dimilikinya.

Bahaya Pujian

          Kebanyakan manusia merasa dirinya semakin berharga. Hidupnya semakin bernilai ketika ia mendapat pujian dari orang lain. Tetapi malangnya, seringkali hal tersebut justru bernilai sebaliknya. Walaupun secara visual, pujian adalah sesuatu yang positif, Hal itu terjadi dalam beberapa bentuk :

Pertama: Orang  yang ingin dipuji dengan sesuatu yang tidak ada pada dirinya. Dipuji sebagai orang pintar padahal dia bodoh, dipuji sebagai orang kaya, padahal dia banyak hutang dan lain sebagainya. Orang yang seperti ini berpotensi untuk menjadi penipu, dan dia tidak akan bahagia jiwanya, karena jiwanya akan Lelah menutupi kepalsuan selama hidupnya.

Kedua: Orang yang ingin dipuji dengan cara merendahkan orang lain. Beberapa orang mengira bahwa dengan merendahkan orang lain akan membuatnya menjadi lebih hebat. Dengan menunjukkan cacat orang lain, dia merasa yang paling baik. Orang seperti ini adalah orang yang cacat moral. Dan pada akhirnya, dia akan merasakan akibat perilaku buruknya tersebut.

Ketiga: Orang yang ingin dipuji dengan hal yang tercela. Memang sangat aneh, melakukan hal tercela, tapi ingin dipuji. Hal ini dapat terjadi ketika kerusakan moral bercampur dengan kerusakan pemikiran. Misalnya, berpakain compang camping, rambut tidak pernah disisir agar disanjung sebagai orang zuhud.

Keempat: Orang yang ingin dipuji karena jasanya. Wajar seseorang mendapat pujian karena perbuatan baiknya. Tetapi kurang baik juga seseorang menolong dengan harapan mendapatkan pujian. Dalam hal ini Islam mengajarkan manusia untuk ikhlas dalam beramal. Ketika keikhlasan tumbuh dalam hati, seseorang menjadi sangat efektif dalam beramal. Dia terus memberi tanpa menunggu feed back (timbal balik) dari orang yang diberi. Dengan keikhlasan, memberi tanpa pamrih, berbuat baik tanpa mengharap pujian, dan berkualitas tanpa mengharap penghargaan, maka integritas seorang muslim akan terbentuk. Betapa indahnya kehidupan yang didominasi dengan orang-orang seperti ini.

 

Menghadapi Hinaan dengan Bijak

Sebagian ulama’ ahli hikmah berkata :

الْمُؤْمِنُ لاَيَخْلُو مِنْ ذَلَّةٍ أَوْ قِلَّةٍ أَوْ عِلَّةٍ

“Orang beriman tidak akan lepas dari sebuah kehinaan,kekurangan, dan kakacauan”

Kita tahu bahwa manusia tidak akan lepas dari sebuah hinaan. Manusia paling mulia pun tidak luput dari hinaan. Rasulullah Muhammad SAW bahkan pernah dituduh sebagai tukang sihir, orang gila, pendusta dan tuduhan-tuduhan miring lainnya. Tidak hanya beliau, istri beliau “Sayyidatuna Aisyah binti Abu Bakr” pernah diisukan berbuat Zina. Lantas, bagaimana dengan kita yang hanya orang biasa-biasa kemudian bisa terlepas dari hinaan dan cacian. Oleh sebab itu, jangan bersedih hati hanya karena dihina, jangan biarkan hati menjadi keruh dan jangan biarkan hidup menjadi pahit.

Imam Al Ghazali memberikan tips bagaimana kita menghadapi hinaan dengan bijak.

Orang yang menghina  tidak lepas dari tiga perkara :

Pertama, adakalanya ia benar dengan perkataannya (menghina), namun ia bermaksud memberi nasehat dan rasa simpatisan. Kedua, adakalanya ia benar dengan perkataannya, akan tetapi ia memang bermaksud menyakiti dan menghinanya. Ketiga, adakalanya ia memang dusta (menghina yang tidak sesuai realita yang ada).

Apabila orang yang menghina kita termasuk yang pertama, maka tidak pantas bagi kita untuk marah dan benci kepadanya. Akan tetapi, seharusnya kita mengikuti perkataanya. Karena ia telah menunjukkan kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita. Jika kita gelisah, dan benci karena perkataannya yang memang jelas itu benar, maka sikap yang demikian adalah sebuah kebodohan, karena kita tidak mau menyadari dengan apa yang harus kita perbaiki

Apabila orang yang menghina kita termasuk yang kedua, maka kita dapat mengambil manfaat dari ucapannya, karena ia telah menunjukkan kekurangan kita yang tidak diketahui. Atau setidaknya ia telah mengingatkan kekurangan kita yang kita lupakan. Seperti halnya kita mengetahui kekurangan kita melalui ucapan dari orang yang membenci kita (musuh).

اِنَّمَا الإِنْسَانُ يَعْرِفُ عُيُوْبَ نَفْسِهِ مِنْ قَوْلِ أَعْدَائِهِ          

“ seseorang akan mengetahui kekurangannya melalui ucapan dari musuhnya”

Apabila orang yang menghina kita termasuk yang ketiga. Maka tidak perlu kita membencinya dan tidak perlu menghiraukan perkataannya, akan tetapi cukup renungkan saja.

Menyembuhkan Penyakit Cinta Pujian

           Orang yang senang akan pujian, menjadikan hidupnya sia-sia saja. Kesehariannya dilakukan hanya untuk menjaga imej (Kehormatan), bahkan dalam posisi yang tidak memungkinkan. Misalnya, sakit. Ia memaksakan diri untuk tetap terbaik, agar mendapat sanjungan dari orang lain. Semua ini merupakan tanda kemunafikan. Dimana ada kontradiksi antara dhahir dan batinnya. Baik ucapan maupun tingkah-lakunya. Sebagaimana yang disabdakan Rasulallah SAW :

إِنّ حُبَّ الجَاهِ يُنْبِتُ النِّفَاقَ كَمَا يُنْبِتُ المَاءُ الْبَقْلَ

“ Cinta (gila) akan kehormatan akan menumbuhkan sifat kemunafikan, sebagaimana air menumbuhkan sayur-sayuran”

Oleh karena itu wajib bagi kita untuk segera menyembuhkan sifat ini agar tidak menjadi tabiaat yang semakin menjamur dalam diri kita.

Sebelum mengobatinya, kita harus mengetahui dulu penyebab kenapa pujian itu disenangi dan kenapa cacian itu dibenci. Karena penyakit yang tidak diketahui penyebabnya tidak mungkin dapat diobati. Salah satu sebab pujian itu disenangi karena : 

  1. Merasa dirinya sempurna lantaran pujian tersebut
  2. Orang yang memuji seakan-akan tunduk kepadanya.
  3. Orang yang mendengar pujian itu membuat memikat hatinya.
  4. Pujian itu menunjukkan kewibawaan 

Adapun mengobatinya ada dua cara :

1)      Ilmu, ya,,,,dengan ilmu kita harus sadar bahwa mereka sejatinya sedang memuji Allah. karena sejatinya Allah yang telah memberi kita kesempurnaan 

2)      Amal , yakni dengan menghinakan diri sendiri di pandangan makhluq. akan tetapi hal ini tidak baik bagi mereka yang menjadi panutan masyarakat, khwatir mereka nanti mencontohnya. adapun orang-orang yang bukan termasuk tokoh masyarakat, dia boleh dengan cara menghenikan diri di depan umum dengan tujuan menghilangkan sifat keangkuhan dalam dirinya.

       Untuk menghadapi yang demikian, hendaknya dikembalikan kepada akal pikiran kita, dan bertanya pada diri kita sendiri, apakah pujian itu layak atau tidak bagi kita? apabila kita merasa senang lantaran pujian itu, padahal kita tidak mempunyai sifat yang demikian, maka ekspresi yang demikian merupakan sebuah kebodohan. Namun, apabila pujian itu sesuai dengan pribadi kita, misalnya berilmu, berwawasan luas, hendaknya kita senang karena itu semata-mata sebuah anugrah dari Allah, tidak senang karena pujian orang lain.

          Adapun obat bagi orang yang tergila-gila dengan pujian adalah dengan menjatuhkan harga diri didepan orang banyak sehingga  ia menjadi hina dan tercela lantaran melakukan perbuatan tersebut, dan tidak lagi dirinya merasa terhormat. Akan tetapi perbuatan ini tidak diperbolehkan bagi orang yang diikuti oleh orang banyak misalnya tokoh masyarakat, karena bisa melemahkan agama para pengikutnya. Sedangkan yang tidak diikuti orang banyak (bukan tokoh masyarakat) ia boleh melakukan perbuatan yang menjatuhkan harga dirinya untuk menyembuhkan penyakit cinta pujian dan kedudukan, dengan catatan..! tidak melakukan hal yang bertentangan dengan agama.

         Sebagaimana yang dilakukan para sufi , ketika seorang raja hendak bertamu ke Rumah seorang sufi yang terkenal dengan kezuhudannya,  Kemudian dihadapan raja ia memakan makanan dengan rakus,dan meperbesar suapannya. Sehingga sang raja menyangka bahwa ia tidak zuhud lagi.

Ada lagi seorang sufi yang terkenal wara’ ia meminum minuman yang halal dengan memakai gelas seperti khamar, dengan maksud agar ia tidak dipuji dengan kewara’annya. Sehingga harga dirinya jatuh dimata manusia karena dianggap telah meminum khamar.

               Adapun obat yang paling mujarrab untuk menghilangkannya adalah dengan mengasingkan diri dari manusia (Uzlah), dan berpindah ketempat dimana ia tidak akan disebut-sebut lagi oleh orang yang mengenalnya. Beralih dari status terkenal menjadi status tidak dikenal.

وقال الفضيل إن قدرت على أن لا تعرف فافعل وما عليك أن لا تعرف وما عليك أن لا يثنى عليك وما عليك أن تكون مذموما عند الناس إذا كنت محمودا عند الله تعالى

“Al Fudhail bin iyadh berkata : jika kamu mampu untuk tidak menjadi orang terkenal, maka lakukanlah..!. tidak ada bahaya bagimu jika kamu tidak terkenal. Tidak akan miskin bagimu jika tidak dipuji-puji. Tidaklah rendah bagimu jika kamu dicela oleh manusia, akan tetapi, terpuji bagimu disisi Allah SWT “

Kita harus menyadari bahwa sebuah pujian yang kita terima bukan semata karena kehormatan dan kebaikan yang ada pada diri kita. Tetapi disitu Allah sedang menutup keburukan kita. Karena kebanyakan manusia lebih suka melihat sesuatu dari luarnya saja.

Refrensi :

احياء علوم الدين ج 3 ص 386

علاج كراهة الذم

 قد سبق أن العلة في كراهة الذم هو ضد العلة في حب المدح فعلاجه أيضا يفهم منه والقول الوجيز فيه أن من ذمك لا يخلو من ثلاثة أحوال :

إما أن يكون قد صدق فيما قال وقصد به النصح والشفقة

 وإما أن يكون صادقا ولكن قصده الإيذاء والتعنت

 وإما أن يكون كاذبا

فإن كان صادقا وقصده النصح فلا ينبغي أن تذمه وتغضب عليه وتحقد بسببه بل ينبغي أن تتقلد منته فإن من أهدى إليك عيوبك فقد أرشدك إلى المهلك حتى تتقيه فينبغي أن تفرح به وتشتغل بإزالة الصفة المذمومة عن نفسك إن قدرت عليها فأما اغتمامك بسببه وكراهتك له وذمك إياه فإنه غاية الجهل وإن كان قصده التعنت فأنت قد انتفعت بقوله إذ  أرشدك إلى عيبك إن كنت جاهلا به وأذكرك عيبك إن كنت غافلا عنه أو قبحه في عينك لينبعث حرصك على  إزالته إن كنت قد استحسنته

إحياء علوم الدين ج 3 ص 384

 وأما من حيث العمل فإسقاط الجاه على قلوب الخلق بمباشرة أفعال يلام عليها حتى يسقط من أعين الخلق وتفارقه لذه القبول ويأنس بالخمول ويرد الخلق ويقنع بالقبول من الخالق وهذا هو مذهب الملامتية إذ اقتحموا الفواحش في صورتها ليسقطوا أنفسهم من أعين الناس فسلموا من آفة الجاه وهذا غير جائز لمن يقتدى به فإنه يوهن الدين في قلوب المسلمين وأما الذي لا يقتدى به فلا يجوز له أن يقدم على محظور لأجل ذلك بل له أن يفعل من المباحات ما يسقط قدره عند الناس كما روي أن بعض الملوك قصد بعض الزهاد فلما علم بقربه منه استدعى طعاما وبقلا وأخذ يأكل بشره ويعظم اللقمة فلما نظر إليه الملك سقط من عينه وانصرف فقال الزاهد الحمد لله الذي صرفك عني


*Oleh 

S,A  (santri aktif Lp Al Khoziny masuk th 2011- sekarang)

 

#alkhozinybuduran #alkhoziny.id #santribuduran #ngajiihya'

 

 

 

 

 

 

 






Post a Comment

0 Comments

Pujian itu menyakitkan